Senin, 27 September 2010

NENEK MOYANGKU ORANG PELAUT RAKYAT PESISIR SEMAKIN BANGKRUT


Nenek Moyangku Orang Pelaut
Rakyat Pesisir Semakin Bangkrut

Masyarakat pesisir, rakyat penghuni perkampungan miskin dan kumuh di tepian pantai pulau – pulau Nusantara kini tak bangga lagi menyanyikan lagu “Nenek moyangku orang pelaut”. Soalnya nasib rakyat pesisir, terutama nelayan pinggir pantai (tradisional) yang tak memiliki perahu motor, sungguh malang. Mereka terpuruk oleh pengusaha – pengusaha perikanan (nelayan berdasi) yang memiliki armada penangkapan ikan. Sebagian besar dari mereka kemudian menjadi buruh nelayan. Singkat kata, Rakyat pesisir bangkrut dan teraniaya.

Seabreg persoalan menggempur masyarakat pesisir: mulai dari ketidakjelasan kawasan tangkap ikan, untuk nelayan tradisional, ketidaktahuan dan kesulitan mengakses bantuan pemerintah, bobroknya pelayanan public, instansi pemerintah, sampai kepada maraknya praktek kejahatan perdagangan orang (trafficking). Paling tidak itulah yang terkuak dalam berbagai kegiatan Center for Indonesia Migran Worker (CIMW) Jakarta, sepanjang 2009-2010 menjangkau masyarakat pesisir dibeberapa desa nelayan di Jawa Barat dan Sumatera Utara. Kegiatan yang bermula dari upaya memperkuat organisasi untuk mantan buruh migran dan keluarganya, berkembang menjadi keperdulian kepada seantero masyarakat pesisir, termasuk nelayan, petani, pedagang kecil dan berbagai usaha rakyat untuk bertahan hidup. CIMW sadar betul, persoalan buruh migran tak lepas dari persoalan komunitas, tempat BMI berasal, baik di pesisir maupun pedalaman yakni: kemiskinan dan ketidakadilan. Tak mungkin mengatasi persoalan buruh migran tanpa keperdulian kepada kemiskinan dan ketidakadilan yang menimpa masyarakat sekitarnya.

Bila pada nomor – nomor terdahulu Jurnal Rakyat melaporkan kiprah BMI di Indramayu atau Sukabumi (Jawa Barat, Sabah (Malaysia) dan Lembata, Adonara, Flores (NTT), dalam nomor ini diwartakan kisah masyarakat pesisir dari Tanjung Tiram dan Pantai Labu, Sumatera Utara serta Karawang, Jawa Barat.

CIMW percaya, nasib rakyat bisa berubah bila ada kemauan memperkuat dirinya melalui organisasi agar mampu menegakkan hak dan martabatnya. Dengan berjuang melalui organisasi rakyat yang kuat, berdaulat dan demokratis, masyarakat pesisir bangkit dari kebangkrutan dan bisa lagi menyanyikan lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut“.


SELAMAT MEMBACA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar