Senin, 27 September 2010

JANGAN DATANG SEBAGAI ORANG PINTAR


JANGAN DATANG SEBAGAI ORANG PINTAR

“Kita harus mengubah paradigma kita. Jangan datang sebagai orang pintar. Namun berjuang bersama mereka. Jangan kita anggap mereka tak bisa apa-apa.” Itulah pesan Pdt. Santoni Ong, Ketua Oikumene Masyarakat (Oikmas) Gereja Kristen Indonesia (GKI) Sinode Wilayah Jawa Barat, tatkala membekali 11 orang muda asal Papua lulusan Sekolah Tinggi Teologia (STT) Setia Jakarta, yang akan kembali ke kampung halaman. Pesan itu disampaikan dalam kegiatan “Pelatihan Pengembangan Sikap Mahasiswa Papua”, di GKI Kav Polri, Jelambar, Jakarta Barat, pada 8, 14 dan 15 Mei 2010.

Pelatihan yang difasilitasi oleh Jemaat GKI Kav Polri bersama PMK HKBP Jakarta ini, bertujuan, mempersiapkan para sobat muda yang akan kembali berkiprah di Papua untuk memiliki visi bersama dalam mewujudkan Papua sebagai tanah damai yang berkeadilan dan sejahtera. Adapan materi yang digali dan dibicarakan bersama antara para fasilitator dan partsipan pelatihan meliputi Potret Diri dan Analisis Situasi, Organisasi Rakyat dan Komunikasi serta Spiritualitas dan Etos Kerja.

Melalui materi Potret Diri dan Analisis Situasi, Henry Darungo mengajak partisipan menggali pengalamannya selama menjadi mahasiswa di Jakarta dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan rakyat Papua. Beberapa sobat, seperti Ham dari Nabire, Friska dari Merauke, Wilmince, Samuel maupun Agustina, menganggap kesenjangan sosial karena ketidakladilan yang sangat terasakan ketika mereka pertama tiba di Jakarta. Dari kampung-kampung miskin di Papua, mereka tiba di Jakarta, kota yang dipenuhi “hutan “ gedung bertingkat. Tampaknya kekayaan yang disedot dari Papua atau kawasan lain Indonesia telah bermuara di Jakarta. Toh ada yang lucu, menurut Ham: bila di Papua “orang miskin tidur di dalam, orang kaya tidur di luar, “ maka di Jakarta terbalik, “orang miskin tidur di jalan (gelandangan dan orang miskin kota ) , orang kaya tidur di dalam (penghuni rumah-rumah mewah)”. Di Papua, orang miskin tidur dalam rumah-rumah sederhana mereka karena tak mampu jalan-jalan, tak ada uang. Sedangkan orang kaya yang punya duit (apalagi dari hasil korupsi), menghabiskan uangnya di luar rumah, bahkan sampai mabuk dan tidur di jalan.

Akan halnya Organisasi dan Komunikasi, seantero partisipan menyumbang pendapat. Mutiara menyebut, organisasi adalah wadah untuk berkumpul bersama dalam satu visi dan misi. Friska merumuskannya: perkumpulan orang-orang yang bekerjasama untuk melakukan atau mengerjakan hal-hal yang berguna bagi banyak orang. Jeffry menambahkan, sekumpulan orang yang di dalamnya ada badan pengurus, anggota, visi, misi dan tujuan bersama. Alhasil visi adalah mimpi, cita-cita, harapan atau tujuan bersama yang ingin dicapai dan misi adalah tugas yang harus dilakukan untuk mencapai cita-cita tadi. Fasilitator menekankan pentingnya sobat-sobat ini memperkuat organisasi rakyat, baik itu masyarakat adat atau kelompok-kelompok pemuda dan perempuan, di tempat pelayanan mereka nanti, agar rakyat memiliki kekuatan untuk melakukan perubahan. Hanya melalui organisasi rakyat yang kuat, rakyat memiliki kemampuan untuk menegakkan hak dan martabatnya.

Kendati begitu, tanpa proses berkomunikasi yang baik, suatu cita-cita sebaik apapun tak akan terwujud. Itulah pentingnya kaum muda Papua yang akan pulang kampung perlu berintegrasi, menyatu dengan rakyat Papua yang akan dilayani. Mulai dari apa yang menjadi kebutuhan rakyat. Jangan karena merasa datang dari Jakarta, merasa hebat, tahu semua dan mau menggurui rakyat. Itu hanya mengundang kegagalan.

Materi pamungkas adalah Spiritualitas dan Etos Kerja yang disampaikan Pdt. Santoni. Spiritualitas, adalah keyakinan yang tumbuh dari sebuah gaya hidup yang digerakkan oleh roh (spirit). Gaya hidup yang gerakkan oleh Roh Allah. Nah, bagaimana kita digerakkan oleh Roh, di tengah konteks kita yang dilanda kemiskinan yang parah, oleh ketidakadilan yang mengakibatkan penderitaan rakyat Papua. Pdt Santoni merumuskannya dalam ungkapan, “menjaga hidup dengan berbuah, menjadi berkat bagi sesama karena memiliki karakter dasar, yaitu kasih.”

Etos kerja sangat berhubungan dengan spiritualitas. Karena kerja, tegas Pdt Santoni, adalah anugerah, yang adalah pertolongan ilahi yang tidak diminta namun diberikan untuk kebaikan manusia. Karena itu, etos kerja yang baik ialah, Bekerja dengan tulus dan bekerja dengan syukur. Selain kerja sebagai anugerah, kerja juga adalah kepercayaan dan persembahan hidup. Dan sebagai manusia yang bertumbuh ke arah yang lebih baik, kerja adalah aktualisasi diri, kemampuan mengembangkan potensi diri, untuk mencapai yang terbaik.

Jadi selamat pulang kampung, bekerja bersama rakyat, memperkuat rakyat Papua mewujudkan keadilan, menuju Papua Tanah Damai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar